Pojok Disabilitas
Tekan Tab untuk navigasi keyboard
Jalan Andi Mannappiang. Kompleks Perkantoran Pemda Bantaeng, Bantaeng, Sulawesi Selatan 92411 | (0413) 21088
PENGUMUMAN
πŸ“’ Pendaftaran RDKK Pupuk Bersubsidi Tahun 2026 telah dibuka β€” Segera daftarkan kelompok tani Anda β€’β€’β€’ 🌾 Penyuluhan Pertanian Terpadu dilaksanakan setiap Rabu di Balai Penyuluhan Pertanian Bantaeng β€’β€’β€’ πŸ† Bantaeng meraih penghargaan ketahanan pangan tingkat nasional tahun 2024 β€’β€’β€’ πŸ“‹ Pengajuan bantuan alsintan dapat dilakukan melalui loket pelayanan Dinas Pertanian β€’β€’β€’ πŸ“’ Pendaftaran RDKK Pupuk Bersubsidi Tahun 2026 telah dibuka β€” Segera daftarkan kelompok tani Anda β€’β€’β€’ 🌾 Penyuluhan Pertanian Terpadu dilaksanakan setiap Rabu di Balai Penyuluhan Pertanian Bantaeng β€’β€’β€’ πŸ† Bantaeng meraih penghargaan ketahanan pangan tingkat nasional tahun 2024 β€’β€’β€’ πŸ“‹ Pengajuan bantuan alsintan dapat dilakukan melalui loket pelayanan Dinas Pertanian β€’β€’β€’

Pertanian Bantaeng Tetap Tumbuh 1,97 Persen di Tengah Tekanan Kemarau

18 Sep 2026 Super Administrator Berita Utama 7 views
Pertanian Bantaeng Tetap Tumbuh 1,97 Persen di Tengah Tekanan Kemarau

BANTAENG – Sektor pertanian Kabupaten Bantaeng tetap mencatat pertumbuhan positif di tengah tekanan kondisi iklim dan penurunan produksi sejumlah komoditas utama pada Triwulan II Tahun 2026.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bantaeng, sektor pertanian tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Bantaeng.

Meski tetap tumbuh, produksi sejumlah tanaman pangan mengalami penurunan. Ketua Tim Statistik Produksi BPS Kabupaten Bantaeng, Hikmawati, menyebut produksi padi turun sekitar 26 persen, sejalan dengan berkurangnya luas panen, sementara produksi jagung turun sekitar 42 persen.

Kondisi berbeda terlihat pada sejumlah komoditas hortikultura. Produksi cabai besar dan cabai keriting meningkat lebih dari 50 persen, sedangkan bawang merah, cabai rawit, dan kentang mengalami penurunan

.

Kemarau Pengaruhi Waktu Tanam

Kondisi tersebut berlangsung di tengah perubahan iklim dan berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian. Berdasarkan laporan BMKG Sulawesi Selatan, curah hujan pada Mei hingga Juli 2026 diprediksi berangsur menurun. Awal musim kemarau di Bantaeng diperkirakan terjadi pada Juli, dengan puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bantaeng, Mahyuddin, mengatakan kondisi ketersediaan air turut memengaruhi waktu tanam dan panen, terutama pada tanaman pangan.

β€œPertanian kita tetap tumbuh 1,97 persen dan memberikan kontribusi 25,13 persen terhadap PDRB Bantaeng. Namun kita juga menghadapi penurunan produksi padi dan jagung. Salah satu kondisi yang kita hadapi adalah berkurangnya ketersediaan air pada sejumlah wilayah pertanian,” ungkapnya.

Menurutnya, dampak kekeringan berbeda pada setiap wilayah. Lahan yang masih memiliki sumber air relatif dapat mempertahankan kegiatan budidaya, sedangkan lahan yang bergantung pada curah hujan menghadapi tekanan lebih besar.


Pola Tanam Mulai Bergeser

Dinas Pertanian juga mencermati adanya pergeseran pola tanam pada sebagian areal dari tanaman pangan ke hortikultura. Kondisi ini terlihat ketika produksi padi dan jagung menurun, sementara cabai besar dan cabai keriting justru meningkat lebih dari 50 persen.

β€œPetani menyesuaikan kegiatan budidayanya dengan kondisi air, musim dan komoditas yang memungkinkan dikembangkan. Tetapi produksi tanaman pangan, khususnya padi dan jagung, tetap harus kita jaga,” kata Mahyuddin.


Percepatan Tanam dan Varietas Genjah

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Pertanian melakukan pemetaan wilayah berdasarkan sumber air, luas tanam dan luas panen.

Pada wilayah yang masih memiliki ketersediaan air, petani didorong melakukan percepatan tanam, menggunakan varietas genjah, serta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim. Sementara pada wilayah dengan ketersediaan air terbatas, penanaman diarahkan agar tidak dipaksakan apabila berisiko mengalami kekeringan sebelum panen.

Dinas Pertanian juga memperkuat pendampingan penyuluh, pengendalian organisme pengganggu tanaman, ketersediaan benih unggul bersertifikat serta identifikasi wilayah penyumbang penurunan produksi padi dan jagung.

Untuk musim tanam berikutnya, penguatan diarahkan pada produksi benih lokal melalui penangkar dan UPT Balai Benih Tanaman Pangan (BBTP), peningkatan produktivitas sentra padi dan jagung, sinkronisasi pola tanam dengan ketersediaan air, serta penguatan sarana produksi, mekanisasi dan pascapanen.

β€œYang kita jaga bukan hanya bagaimana petani bisa menanam, tetapi bagaimana mereka menanam pada waktu yang tepat, dengan komoditas yang tepat dan dukungan yang tepat. Produksi tanaman pangan harus kita amankan, produktivitas kita tingkatkan, dan kesejahteraan petani tetap menjadi tujuan utama,” pungkas Mahyuddin.

#petanibangkit

Foto Lampiran (1)

Bagikan: WhatsApp Facebook

πŸ“° Berita Terkait

Pertanian Bantaeng Tetap Tumbuh 1,97 Persen di Tengah Tekanan Kemarau
18 Sep 2026
Bantaeng Kolaborasi Bersama Unhas dan Taiwan ICDF Gelar Penanaman Jagung JJUH Program Penangkaran Parent Seed
15 Sep 2026
Pelatihan Petani/Field Day kerjasama Taiwan-ICDF dengan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin
05 Sep 2026
Pertemuan sosialisasi pupuk RDKK dan PM-AAS di desa Rappoa
27 Agu 2026
πŸ’¬ Konsultasi Pertanian
Pojok Konsultasi Pertanian Tanya ahli pertanian kami

Punya pertanyaan seputar pertanian? Tim ahli kami siap membantu Anda!

Ajukan Pertanyaan Hubungi Langsung WhatsApp
Senin - Kamis: 07.30 - 16.00 | Jumat: 07.00 - 11.30